Dengan membaca tulisan ini, maka jangan 100% percaya pada tulisan ini. bukan berarti pengalaman pribadi bukan juga kisah yang belum nyata.
“ Saat Kau telah hancurkan hati dan perasaan
seseorang,
tetapi orang tersebut masih menanyakan kabar
tentangmu dan peduli denganmu,
serta masih ada senyuman dan kelembutan dari
dirinya,
sungguh ialah orang yang tulus dan kesalahanmu
telah membiarkannya pergi “
Berbicara tulus atau
tidaknya seseorang pada kita, tentu tidak ada yang mampu menebak dengan mudah
dan memahaminya dengan penuh akal dan logika.
Namun, setiap orang pasti akan
bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dalam memberi dan menerima dan mana
yang hanya berpura dalam memperlihatkan ketulusan tersebut.
Pada awalnya memang
setiap perasaan itu hadir dengan penuh kemanisan, keharmonisan tercipta saat
dua insan saling mengerti bahwa bahagia itu universal, tidak mengenal siapa
orangnya, darimana kalangannya, dan kapan harus berbagi kebahagiaan, serta
dalam bagaimananya kebahagiaan tersebut tercurah dan tersampaikan hanya setiap
pribadi yang bisa memberi.
Sebut saja ia Mas
Patah yang tergila-gila dengan pujaan hatinya yang disebut sebagai Mba hati.
Waktu memang tidak ada yang bisa menebak kapan manusia saling di pertemukan
dengan manusia yang lain untuk saling silaturahim atau sekedar bertegur sapa.
“ pertemuanmu
dengannya adalah awal mula dari cerita yang bakal tertulis dicatatan kertas
kosongmu.
Dalam setiap
ceritanya, dirimu tidak bisa menebak, mana yang akan kamu tulis terlebih
dahulu, bahagia atau kesedihan ?
Karna itu tergantung
pada dirimu dan dengannya yang memegang penanya “.
Mas fatah hanya
lelaki polos, yang belum paham akan arti mencintai, menyayangi seseorang, akan
tetapi dalam hatinya ada ketulusan yang mendalam.
Pada suatu gelapnya
malam dalam perjalanan,
Mas fatah berkata
“
bolehkah aku berkata padamu, rindu. Nyatanya aku bukanlah orang belum tentu
baik untuk awal pertemuan kita, aku pun bukan seseorang yang pandai berjanji
lalu ditepati, dan aku juga bukan yang pandai dalam mencairkan suasana. 1 hal
yang harus kamu tahu, nilailah aku dari apa yang aku lakukan untukmu, bukan
dengan apa yang aku katakana, karna lewat kata bisa saja itu hanya sekedar
kata, namun apa yang aku perbuat untukmmu itu benar nyatanya ketulusan hadir
dari diriku untukmu, jadi pahami baik-baik akan diriku “
Mba hati menoreh kearah
mas fatah dengan senyuman, seolah meyakinkan,
“ dalam gelapnya
malam, kamu tahu apa yang membuat perjalanan kita menjadi terang ? cukuplah
akan kehadiranmu dan kehangatanmu dalam membuktikan dengan tindakanmu, aku tak
peduli dengan apa yang kamu katakan dan janji yang sering kau ucapkan, hatiku
merasa, jika dirimu cukup gagah dan berani, jangan jadikan ucapan dan janjimu
hanya omongan belaka. Sejatinya kamu adalah lelaki, dan aku adalah perempuan
yang kadang tergiur rayuan manismu, maka jangan pernah tinggalkan kesendirian
dalam perjalanan ini “
“ janji ialah suatu
ucapan yang belum benar terbukti adanya,
Sedangkan bila (ia)
yang kau utarakan dalam janji tersebut,
Jangan biarkan (ia)
hanya sekedar ucapan lalu terlupakan,
Jadikan (ia) nyata
dan bahagia karna janji yang kau ucapkan “
Suatu ketika, mba hati sangat membenci mas fatah, lantaran
tak kunjung ia temukan kecocokan dalam komunikasi dengan mas fatah. Kejenuhan
dan kegagalan di masa lalu menghantuinya, rasa putus asa terus mendorongnya
untuk segera menyudahinya.
Berbeda dengan mba
hati, mas fatah masih tetap teguh dan menyadari bahwa ia salah dan segera
belajar dari kesalahan tersebut. Namun semakin ia menyadari, semakin kuat rasa
percaya akan perasaannya kepada mba hati. Nyatanya ia masih saja belum belajar
dengan baik, masih saja selalu salah dimata mba hati.
“ hati, maafkan atas
kesalahan yang ku perbuat terus menerus, ini hanya keegosianku yang belum
memahamimu secara utuh. Beri aku waktu dan proses dalam hal ini “
“ apa yang kamu mau
mas fatah ? nyatanya kesalahan ini terus berulang, kamu sepertinya tak pernah
belajar dengan baik dari kesalahan yang kamu perbuat. Aku lelah, maafkan aku
yang masih harus jujur padamu, luka dan ketakutan ku di masa lalu ku masih
belum pulih seutuhnya, rasa benci dan kecewa pada seseorang masih saja berkata
dalam hati dan pikiranku. Jadi pahamilah lukaku masih teramat sakit, dan ku pastikan sudahi saja perjalanan kita
sampai disini saja. Kita tidak ada kecocokan dalam hal apapun “
“ hati, ku mohon
berikan aku kesempatan lagi, beri aku waktu sejenak untuk merenungi dan
intropeksi salahku padamu. Bilamana hatimu masih ada luka di masa lalumu,
kenapa tidak jujur dari awal, kenapa kamu katakan disaat rasaku padamu terus
tumbuh, bukankah itu sama saja melukaiku ? sudah lupakan tentang itu, ku mohon Tarik
ucapan mu tentang pisah, bukankah sudah ku utarakan dari awal, aku bukanlah
orang yang belum tentu baik, baik dalam ucapan dan janji, aku hanya
membuktikannya lewat tindakan “.
“ kadang serapat
apapun kamu menutupi luka di masa lalumu,
selalu ada hal yang terbaca dari luka
tersebut.
Jangan korbankan orang terdekatmu dan baru dalam kehidupanmu hanya
karna kamu masih menyimpan luka di masa lalumu.
Karna pada dasarnya orang
tersebut hanya mau mengubah lukamu menjadi bahagiamu, walau butuh waktu, namun
percayalah ia itu tulus dalam memberi dan menerima, walau belum sesempurna pada
apa yang ada di masa lalumu.
Sungguh tidak adil bilamana kamu masih membahas
masa lalumu, karna ini tentang sekarang dan masa depan.
Orang yang tulus tidak
akan menyerah dalam sebuah keputusan yang pahit, namun ia akan pergi bila
memang sudah waktunya tuk pergi dan jangan penah tanyakan lagi apa itu
ketulusan, karna itu semua sudah tergambar dari dirinya dan pengorbanannya
dalam mengubah masa lalumu.
Percayalah, ia bukan orang yang bodoh dalam
menerima kenyataan, ia hanya berat dalam melangkahkan kaki tuk pergi pada 1
hati yang sudah ia yakini bakal ia labuhkan seluruh hatinya, walau hanya baru
sebentar ia di pertemukan “.

No comments:
Post a Comment